Melestarikan Kearifan Lokal: Ibu Darmatasiah, Perajin Lukah yang Tetap Bertahan di Tengah Perubahan Zaman
- Nov 14, 2025
- KIM DESA JAMIL
Di tengah arus modernisasi yang kian deras, sebagian besar masyarakat beralih pada peralatan tangkap ikan yang lebih praktis dan modern. Namun, di Desa Jamil, masih terdapat sosok yang setia mempertahankan tradisi sekaligus menjaga warisan budaya lokal. Beliau adalah Ibu Darmatasiah, seorang perajin lukah yang telah menekuni kerajinan ini selama puluhan tahun. Keahliannya membuat lukah—alat tradisional untuk menangkap ikan di sungai—menjadi bukti ketekunan yang tidak lekang oleh waktu.
Lukah merupakan alat tangkap ikan berbahan dasar bambu yang dirangkai dengan teknik khusus, mengandalkan ketelitian, kesabaran, dan pengalaman. Proses pembuatannya tidak bisa dilakukan secara tergesa-gesa, sebab setiap ikatan bambu harus disusun dengan presisi agar lukah dapat berfungsi optimal di sungai. Bagi Ibu Darmatasiah, kerajinan ini bukan sekadar pekerjaan, tetapi warisan turun-temurun yang memiliki nilai filosofi dan budaya. Ia mempelajari tekniknya sejak muda dan terus mengembangkannya hingga kini, sekaligus menjadi salah satu dari sedikit perajin yang masih mempertahankannya di Desa Jamil.
Bertahan sebagai perajin tradisional di era modern bukanlah perkara mudah. Peralatan modern yang cepat dan praktis membuat kerajinan tradisional kerap terpinggirkan. Namun, Ibu Darmatasiah tidak mudah menyerah. Ia percaya bahwa setiap karya memiliki nilai tersendiri. Meski peminatnya tidak seramai dulu, selalu ada warga yang masih membutuhkan lukah, terutama para pemancing sungai yang tetap mengandalkan alat tradisional ini. Setiap pesanan yang datang menjadi bentuk penghargaan atas dedikasinya menjaga warisan lokal.
Menurut Ibu Darmatasiah, hasil dari kerajinan ini patut disyukuri. Walaupun tidak memberikan keuntungan besar, usaha ini mampu membantu perekonomian keluarganya dari waktu ke waktu. Baginya, inti dari pekerjaan bukan hanya menghasilkan uang, tetapi memberikan manfaat dan menjadi jalan untuk menjaga budaya leluhur tetap hidup. Sikap syukur dan kesederhanaan inilah yang membuatnya semakin teguh menjalani profesi sebagai perajin lukah.
Lebih dari sekadar alat tangkap ikan, lukah adalah simbol hubungan erat masyarakat dengan alam, terutama sungai yang menjadi bagian penting kehidupan warga Desa Jamil. Melalui kerajinannya, Ibu Darmatasiah tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga memperkenalkan kembali nilai-nilai kearifan lokal kepada generasi muda. Ia berharap suatu hari nanti akan ada anak muda yang berminat mempelajari keahlian ini, agar tradisi pembuatan lukah tidak hilang ditelan zaman.
Keberadaan Ibu Darmatasiah sebagai perajin lukah menjadi pengingat bahwa kemajuan zaman tidak seharusnya menghapus akar budaya masyarakat. Justru melalui tangan-tangan seperti beliau, kearifan lokal tetap dapat dipertahankan dan diwariskan. Dedikasi dan ketekunannya adalah inspirasi bagi warga Desa Jamil dan siapa pun yang menghargai budaya. Selama masih ada sosok seperti Ibu Darmatasiah, tradisi akan tetap hidup, lestari, dan memberi makna di tengah kehidupan modern.